alfiano sutianto UjFFguMKeaI unsplash
alfiano sutianto UjFFguMKeaI unsplash

Sejarah Singkat Histeria

Posted on

Histeria adalah kondisi yang telah ada selama berabad-abad. Secara luas dapat didefinisikan sebagai gangguan mental yang ditandai dengan kecemasan yang berlebihan atau tidak terkendali, biasanya disebabkan oleh beberapa bentuk stimulus. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, histeria telah menjadi semacam kata kunci.

Asal Usul Histeria

Histeria memiliki sejarah yang panjang dan beragam, dengan akarnya di Yunani kuno dan Roma. Pada zaman klasik, histeria dipandang sebagai tanda campur tangan ilahi. Di Eropa abad pertengahan, itu dianggap sebagai penyakit spiritual yang disebabkan oleh Iblis atau entitas supernatural lainnya. Pada awal abad ke-20, psikiater mulai memandang histeria sebagai gangguan mental yang disebabkan oleh faktor psikologis. Saat ini, histeria masih dianggap sebagai gangguan mental, tetapi lebih sering diobati dengan terapi dan pengobatan.

Bangkitnya Histeria di Awal Abad 20

Histeria selalu menjadi topik yang kontroversial. Sementara beberapa orang percaya bahwa histeria adalah respons alami terhadap rasa takut, yang lain percaya bahwa itu adalah gangguan mental.

Histeria pertama kali mulai terjadi pada awal 1900-an. Pada saat ini, ada banyak ketakutan dan kecemasan seputar perang dunia. Orang-orang terus-menerus khawatir tentang keselamatan mereka dan keselamatan orang yang mereka cintai.

Akibatnya, histeria mulai menyebar. Dokter dan profesional medis lainnya mulai mendiagnosis orang dengan histeria sebagai cara untuk mengelola ketakutan mereka. Mereka percaya bahwa dengan mendiagnosis pasien dengan histeria, mereka dapat mengendalikannya dan membuat mereka tidak terlalu takut.

Namun, banyak orang tidak menerima histeria sebagai gangguan mental yang sah. Mereka percaya bahwa itu hanyalah respons terhadap rasa takut. Akibatnya, histeria terus berkembang sepanjang awal 1900-an.

Penurunan Histeria di Akhir Abad 20

Histeria telah ada selama berabad-abad, tetapi menurun pada akhir abad kedua puluh. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain kemajuan teknologi kedokteran dan perkembangan antidepresan.

Di masa lalu, histeria sering digunakan sebagai cara untuk membenarkan penindasan perempuan. Dokter akan mendiagnosis wanita dengan histeria dan mengobati mereka dengan operasi dan obat-obatan. Hal ini menyebabkan banyak wanita yang dirugikan secara tidak perlu.

Setelah Perang Dunia II, terjadi pergeseran sikap terhadap histeria. Penggunaan psikiatri untuk mengendalikan orang menjadi lebih kontroversial. Hal ini karena psikiatri didasarkan pada teori bahwa penyakit mental disebabkan oleh faktor biologis. Teori ini dibantah oleh banyak ilmuwan, termasuk beberapa yang bekerja di National Institute of Mental Health (NIMH).

Saat ini, masih ada beberapa orang yang menggunakan histeria untuk membenarkan keyakinan mereka. Namun, kebanyakan orang memahami bahwa histeria adalah penyakit palsu yang digunakan untuk menindas wanita.

Masa Depan Histeria

Histeria memiliki sejarah yang panjang dan kompleks, dengan akarnya di Yunani kuno dan Roma. Seiring waktu, kondisi tersebut telah didefinisikan dan diklasifikasikan secara beragam. Pada abad ke-18, histeria dianggap sebagai penyakit mental yang menyebabkan wanita mengalami tawa, tangis, atau gemetar yang tidak terkendali. Pada abad ke-19, histeria berganti nama menjadi “histeria praecox,” atau “histeria awal,” yang merujuk pada sekelompok wanita yang mengalami gejala di awal kehidupan mereka. Pada abad ke-20, histeria didefinisikan ulang sebagai respons emosional sementara yang disebabkan oleh kecemasan atau stres. Saat ini, masih ada perdebatan seputar definisi dan klasifikasinya, tetapi histeria secara keseluruhan dianggap sebagai kondisi kejiwaan yang lebih banyak mempengaruhi wanita daripada pria.