Panggilan untuk Kesetaraan dalam Standar Intelektual (2022)

Posted on

Dalam lanskap intelektual saat ini, ada perbedaan yang jelas dan tak terbantahkan antara mereka yang memiliki akses ke informasi dan mereka yang tidak. Akibatnya, suara orang-orang yang terpinggirkan dan kurang terwakili seringkali tidak terdengar.

Kesenjangan budaya ini memiliki implikasi serius bagi masyarakat secara keseluruhan, dan kita perlu melakukan sesuatu tentang hal itu. Dalam artikel ini, saya ingin mengusulkan satu solusi yang mungkin: membawa kesetaraan pada standar intelektual sehingga setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk didengar.

Kebutuhan akan Kesetaraan dalam Standar Intelektual

Sebagai pendidik, adalah tanggung jawab kita untuk memastikan bahwa semua siswa memiliki akses ke pendidikan yang setara. Ini termasuk memberi siswa kesempatan dan sumber daya yang sama untuk memahami dan terlibat dengan dunia di sekitar mereka. Sayangnya, hal ini tidak selalu terjadi. Terlalu sering, siswa dari keluarga kaya diberikan tingkat pendidikan yang lebih tinggi daripada mereka yang berasal dari latar belakang yang kurang beruntung. Hal ini terutama berlaku dalam hal prestasi akademik, dan itu harus dihentikan.

Keluarga kaya mampu menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah bergengsi dan menerima pendidikan terbaik. Pada gilirannya, para siswa ini lebih mungkin untuk berhasil dalam hidup dan memperoleh pendapatan yang lebih tinggi. Kesenjangan ini berdampak serius pada masyarakat secara keseluruhan, karena menciptakan penghalang bagi mereka dari latar belakang yang kurang beruntung yang ingin mencapai tingkat kesuksesan yang sama. Kita perlu melakukan sesuatu tentang masalah ini, dan kita perlu melakukannya sekarang.

Keluarga kaya seharusnya tidak mampu membeli jalan mereka ke pendidikan yang lebih baik untuk anak-anak mereka. Semua siswa berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk belajar dan tumbuh, terlepas dari latar belakang atau situasi keuangan mereka. Kita membutuhkan kesetaraan dalam standar intelektual jika kita ingin masyarakat secara keseluruhan makmur.

Ancaman terhadap Kesetaraan dalam Standar Intelektual

Setelah pemilihan presiden minggu lalu, banyak yang merenungkan keadaan demokrasi Amerika. Meskipun ada banyak faktor yang perlu dipertimbangkan, salah satu tren yang paling mengkhawatirkan adalah terkikisnya kesetaraan dalam standar intelektual.

Dalam beberapa tahun terakhir, kita telah melihat peningkatan retorika dan kebijakan populis yang hanya menguntungkan segelintir orang terpilih. Tren ini paling terlihat di bidang pendidikan, di mana universitas elit dituduh mengunggulkan perspektif tertentu di atas yang lain. Ini sangat berbahaya karena mengancam sistem meritokrasi kita, yang didasarkan pada gagasan bahwa individu dapat mencapai kesuksesan berdasarkan kemampuannya sendiri.

Apa arti perkembangan ini bagi masyarakat secara keseluruhan? Secara teori, mereka dapat menyebabkan polarisasi dan ketidaksetaraan yang lebih besar. Lagi pula, jika hanya segelintir orang terpilih yang dapat memperoleh akses ke pendidikan dan pelatihan terbaik, kemungkinan besar mereka akan menjadi lebih sukses daripada sebelumnya. Dan karena kesuksesan sering kali melahirkan rasa puas diri dan hak, ini pada akhirnya dapat menyebabkan konsekuensi yang lebih menghancurkan.

Kita perlu melawan tren ini dan menjaga keseimbangan dalam standar intelektual. Ini bukan tentang membuat siapa pun merasa rendah diri; ini tentang memastikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk bersaing secara setara. Jika kita bisa melakukan itu, kita bisa membangun masyarakat yang lebih adil dan lebih adil dari sebelumnya.

Kesimpulan

Sulit untuk berdebat dengan premis dasar The Bell Curve, yaitu bahwa ada perbedaan yang signifikan dalam skor IQ rata-rata antara kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat. Namun, ada beberapa kritik penting terhadap buku ini yang perlu ditanggapi jika kita ingin berdiskusi secara terbuka dan jujur ​​tentangnya. Misalnya, Richard Herrnstein dan Charles Murray tidak menggunakan uji coba terkontrol secara acak sebagai metode utama mereka untuk menyelidiki apakah IQ diturunkan atau tidak. Ini berarti bahwa kesimpulan mereka mungkin tidak sepenuhnya akurat karena potensi bias; lebih jauh lagi, mereka menggunakan istilah “hierarki” tanpa memberikan bukti bahwa inilah yang sebenarnya diukur oleh intelijen. Dengan kata lain, akan tampak seolah-olah Kurva Lonceng memberikan makna pada kecerdasan berdasarkan konstruksi masyarakat daripada temuan ilmiah.