harry cunningham L0nLG8t7zho unsplash
harry cunningham L0nLG8t7zho unsplash

Mengenal Compassion Fatigue, Apa itu?

Posted on

Kebebasan adalah nilai penting yang harus dijunjung tinggi, dan itu adalah sesuatu yang harus kita perjuangkan dengan segala cara. Tetapi bagaimana jika gagasan kita tentang kebebasan salah? Bagaimana jika jenis kebebasan yang kita inginkan justru malah membatasi kita? Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi konsep “kebebasan dalam batasan” dan melihat bagaimana hal itu bisa menjadi pengalaman yang lebih membebaskan.

Apa itu Compassion Fatigue?

Compassion Fatigue adalah istilah yang pertama kali digunakan pada tahun 1997 oleh Dr. Gregory Bateson, seorang psikiater dan antropolog. Ini mengacu pada fenomena kelelahan pasien karena terlalu banyak merawat orang lain.
Menurut Bateson, ada tiga tahap perawatan: primer, sekunder, dan tersier. Pada tahap utama, kita ditarik ke dunia orang lain dan merasa terlibat dalam pengalaman mereka. Kita mungkin merasakan intensitas emosional dan simpati. Tahap kedua adalah ketika kita menjadi terlepas dari orang dan emosi kita sendiri. Kita mungkin lebih tertarik pada apa yang dikatakan orang lain daripada perasaan mereka. Tahap tersier adalah ketika kita kehilangan minat sama sekali dan orang lain menjadi objek belaka bagi kita.
Compassion Fatigue dapat terjadi pada setiap tahap perawatan, tetapi paling sering terjadi pada tahap sekunder dan tersier. Ini dapat menyebabkan kelelahan, yang merupakan keadaan kelelahan atau stres yang disebabkan oleh terlalu banyak pekerjaan atau stres dalam pekerjaan atau kehidupan seseorang.
GejalaCompassion Fatigue termasuk perasaan terkuras secara emosional setelah berurusan dengan orang yang membutuhkan, tidak mampu mengatasi stres, memiliki sedikit antusiasme untuk pekerjaan atau kehidupan, merasa mudah marah dan kewalahan, dan sulit tidur.

Asal Usul Compassion Fatigue

Dalam beberapa tahun terakhir, Compassion Fatigueh telah menjadi topik perhatian bagi praktisi dan peneliti. Compassion Fatigue adalah sindrom yang ditandai dengan perasaan kelelahan dan kelelahan yang berlebihan karena bekerja dengan atau menyaksikan kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari (Grossman, 2016). Istilah ini pertama kali diciptakan pada tahun 2003 oleh Dr. Jon Kabat-Zinn, yang awalnya menggunakannya untuk menggambarkan stres yang dialami orang karena harus terus-menerus mengerahkan upaya terbaik mereka dalam menghadapi penderitaan yang luar biasa (Kabat-Zinn, 2003).

Sejak awal, Compassion Fatigue telah dipelajari secara ekstensif, dengan berbagai teori yang diusulkan mengapa hal itu menjadi lebih umum. Beberapa menyarankan bahwa keterlibatan penuh kasih tidak lagi berkelanjutan di dunia yang serba cepat saat ini (Nolan & Siegel, 2016). Yang lain berpendapat bahwa ada kurangnya pendidikan dan pelatihan welas asih dalam bidang perawatan kesehatan (Cooper et al., 2017). Terlepas dari alasannya, tampak jelas bahwa kita menghadapi tantangan yang berkembang dalam hal bagaimana mempromosikan dan mendorong kasih sayang di dunia kita.

Saat kami mempertimbangkan cara untuk mengatasi masalah ini, satu langkah penting adalah memahami apa sebenarnya Compassion Fatigue itu dan bagaimana hal itu memanifestasikan dirinya. Menurut Grossman (2016), empat fitur utama dari Compassion Fatigue adalah:

  1. Kelelahan dan kelelahan yang berlebihan karena bekerja dengan atau menyaksikan belas kasih dalam kehidupan sehari-hari
  2. Berkurangnya rasa kepuasan atau kepuasan dari pekerjaan atau kegiatan sukarela yang melibatkan kasih sayang
  3. Meningkatnya kepekaan terhadap penderitaan orang lain, yang dapat menyebabkan perasaan bersalah atau malu yang hebat
  4. Penurunan kemampuan untuk terbuka secara emosional dan responsif terhadap orang lain.

Jelas bahwa Compassion Fatigue dapat berdampak besar pada praktisi dan orang-orang yang bekerja dengan mereka. Jika Anda merasa kewalahan oleh gejala Compassion Fatigue, penting untuk mencari konseling atau terapi sesegera mungkin. Ada banyak sumber daya yang tersedia untuk membantu Anda mengelola sindrom ini, dan bersama-sama kita dapat bekerja untuk memulihkan keseimbangan dan ketahanan dalam hidup kita.

Gejala Compassion Fatigue

Ketika kita terus-menerus dibanjiri dengan pesan-pesan belas kasih, kita mungkin mulai merasa kewalahan dan terkuras. Hal ini dapat menyebabkan kondisi yang disebut Compassion Fatigue, yang dapat memengaruhi kemampuan kita untuk membantu orang lain dan bahkan menyebabkan kelelahan. Berikut adalah beberapa tanda Anda mungkin menderita Compassion Fatigue:

-Anda merasa sulit untuk memberi atau menerima pujian.
-Anda merasa lelah setelah mencoba bersikap baik kepada seseorang.
-Anda sering menemukan diri Anda menghindari situasi yang dapat melibatkan membantu orang lain.
-Anda berjuang untuk mempertahankan motivasi Anda dalam menghadapi permintaan bantuan yang berulang-ulang.

Cara Mengatasi Compassion Fatigue

“Compassion Fatigue” adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan respons emosional terhadap terlalu banyak kebaikan. Ini adalah masalah umum, dan mungkin sulit untuk mengikuti tingkat welas asih yang kita butuhkan untuk merasa puas dan bahagia. Berikut adalah beberapa tips untuk mengatasi Compassion Fatigue:

  1. Tetap pada rutinitas sehari-hari. Ini akan membantu Anda mengatur emosi dan tetap pada jalurnya.
  2. Istirahat. Ketika Anda mulai merasa kewalahan, istirahatlah dari berinteraksi dengan orang-orang yang memicu Compassion Fatigue Anda. Ini mungkin berarti berjalan-jalan, menghabiskan waktu di alam, atau membaca sesuatu yang menenangkan.
  1. Kelilingi diri Anda dengan orang-orang yang mendukung. Saat Anda sedang berjuang, akan sangat membantu jika memiliki teman atau anggota keluarga yang memahami dan mendukung Anda.
  2. Terlibat dalam kerja sukarela atau aktivisme sosial. Terlibat dalam sesuatu yang penting bagi Anda akan membantu Anda merasa terhubung dengan dunia dan terinspirasi untuk terus membantu orang lain.

Kesimpulan

Saya harap artikel ini menunjukkan kepada Anda bahwa ada jenis kebebasan yang berbeda di luar sana, kebebasan yang memungkinkan Anda menjadi bos bagi diri sendiri dan menjalani hidup sesuai keinginan Anda. Diet ketogenik dapat membantu Anda menurunkan berat badan dan meningkatkan kesehatan Anda, sementara keahlian yang dibutuhkan untuk berhasil di dunia lepas dapat dipelajari dengan relatif mudah. Mengapa tidak mencobanya?