wasa crispbread AOgRd7Ah8 U unsplash
wasa crispbread AOgRd7Ah8 U unsplash

Model Akulturasi Berry

Posted on

Akulturasi adalah proses beradaptasi dengan budaya dan gaya hidup baru. Ini dapat dilihat sebagai bagian yang tak terelakkan dari pembangunan, karena orang-orang secara bertahap berubah untuk lebih berasimilasi dengan lingkungan baru mereka. Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi model akulturasi Berry, yang menawarkan pandangan yang komprehensif dan mendalam pada berbagai aspek dari proses ini.

Latar belakang

Model Akulturasi Berry adalah teori yang mencoba untuk memahami proses akulturasi dengan memeriksa empat dimensi yang berbeda: kognitif, lingkungan, perilaku dan sosial. Masing-masing dimensi memiliki peran dalam proses akulturasi dan masing-masing dapat berinteraksi satu sama lain. Model tersebut telah digunakan untuk menjelaskan proses asimilasi imigran dengan budaya baru mereka serta retensi tradisi budaya dalam keluarga imigran.

Secara kognitif, pendatang harus mempelajari budaya baru. Mereka harus belajar bahasa dan adat istiadat. Mereka juga harus belajar tentang sistem politik dan bagaimana berperilaku dalam masyarakat. Faktor lingkungan juga berperan dalam akulturasi. Imigran harus menyesuaikan diri dengan kondisi cuaca baru, kebiasaan makan baru, dan interaksi sosial baru. Dimensi perilaku mencakup bagaimana imigran bertindak terhadap anggota budaya mereka sendiri dan bagaimana mereka bertindak terhadap anggota budaya baru. Dimensi sosial mencakup bagaimana imigran berhubungan dengan anggota lain dari keluarga dan komunitas mereka dan bagaimana mereka terlibat dengan anggota budaya baru.

Model tersebut telah digunakan untuk menjelaskan aspek positif dan negatif dari akulturasi. Misalnya, ketika imigran berasimilasi dengan cepat dan lancar ke dalam budaya baru mereka, mereka mungkin kehilangan beberapa tradisi budaya mereka. Namun, jika imigran mempertahankan banyak tradisi budaya mereka sambil beradaptasi dengan budaya baru, mereka mungkin terlihat lebih berasimilasi.

Teori Akulturasi

Dalam artikel tersebut, Berry membahas gagasan akulturasi, atau proses beradaptasi dengan konteks budaya baru. Dia mendefinisikan akulturasi sebagai “penyesuaian bertahap seseorang atau kelompok ke budaya baru,” dan berpendapat bahwa itu adalah bagian penting dari asimilasi ke dalam masyarakat baru. Akulturasi dapat mengambil banyak bentuk, termasuk: penampilan fisik, penggunaan bahasa, norma-norma sosial, dan nilai-nilai.

Berry menawarkan beberapa contoh bagaimana akulturasi mempengaruhi kehidupan masyarakat. Misalnya, ia membahas bagaimana imigran Meksiko di Amerika Serikat sering mengubah penampilan fisik mereka agar sesuai dengan standar daya tarik Amerika. Mereka mungkin mengadopsi aksen Amerika dan mengenakan pakaian Amerika yang lebih tradisional. Dengan cara ini, mereka beradaptasi dengan konteks budaya baru mereka dengan mengubah perilaku dan penampilan mereka.

Demikian pula, Berry membahas bagaimana imigran Brasil di Amerika Serikat sering mengubah penggunaan bahasa mereka agar sesuai dengan masyarakat Amerika. Mereka mungkin mengadopsi bahasa gaul Amerika dan menggunakan pengucapan Amerika ketika berbicara bahasa Portugis. Adaptasi ini membantu para imigran ini untuk berasimilasi lebih baik ke dalam konteks budaya baru mereka.

Akulturasi juga dapat memiliki konsekuensi emosional. Misalnya, Berry membahas bagaimana keluarga imigran mungkin kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan budaya baru mereka. Mereka mungkin mengalami perasaan kesepian dan keterasingan dari komunitas baru mereka.

Secara keseluruhan, Berry berpendapat bahwa akulturasi adalah bagian penting dari asimilasi ke dalam masyarakat baru. Ini dapat membantu para imigran untuk berintegrasi dengan lebih baik ke dalam lingkungan baru mereka, dan itu dapat memiliki konsekuensi emosional bagi anggota keluarga yang beradaptasi.

Model Akulturasi Berry

Model akulturasi Berry mengusulkan bahwa individu dapat mengalami berbagai mode adaptasi budaya dalam hidup mereka. Awalnya, mereka mungkin mengadopsi cara hidup tradisional di mana mereka menyesuaikan diri dengan nilai-nilai dan norma-norma budaya mereka. Jika berhasil, mereka kemudian dapat mengadopsi mode kedua, yang ditandai dengan lebih banyak kemandirian dan kreativitas. Akhirnya, mereka mungkin bergerak menuju mode ketiga, yang dicirikan oleh sintesis dan integrasi aspek tradisional dan independen dari budaya mereka. Model Berry telah diadopsi secara luas dalam penelitian tentang akulturasi dan telah memberikan wawasan tentang proses perubahan budaya bagi individu dan kelompok.

Kesimpulan

Model akulturasi Berry berpendapat bahwa individu mengalami berbagai dimensi asimilasi saat tinggal di lingkungan budaya baru. Individu berasimilasi dengan budaya dominan, tetapi juga mengadopsi aspek budaya minoritas. Model ini dapat diterapkan pada imigran yang menetap di negara baru, serta anak-anak imigran generasi kedua.

× Penutup! Postingan "Model Akulturasi Berry" ini diharapkan bisa membantu Anda yang tengah mencari jawaban topik Model Akulturasi Berry ini. Jika Anda menemukan ada kesalahan dalam informasi yang diberikan, harap gunakan fitur laporkan konten agar informasi tentang Model Akulturasi Berry yang disajikan menjadi lebih akurat.